Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2011

Secercah Kisah Di Awal Ramadhan


SECERCAH KISAH DI AWAL RAMADHAN
Oleh : Nayrus El Rayyan


            Hari pertama ramadhan tahun ini baru saja dimulai, terasa ada sesuatu yang berbeda apabila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Ketika bulan suci ini dibentangkan bagi umat Muslim diseluruh dunia, serentak suasana rindu – pun mendekap dengannya dan mengendap dalam relung hati. Hati yang dipenuhi dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang memuncak dalam dekapan bulan yang dipenuhi dengan keberkahan dan keistimewaan.

            Sedikit lucu, apabila ku ingat hari pertama mamasuki bulan ramadhan tahun ini. Ketika malam pertama dibulan ini, yaitu malam pertama untuk melaksanakan sholat sunnah tarawih. Sebagaimana biasanya, sholat sunnah tarawih dilakasanakan dimasjid secara bejama’ah. Sholat sunnah tarawih dilaksanakan tergantung dengan kebiasaan dan ketentuan dimasing-masing tempat, maksudnya untuk jumlah raka’atnya. Ada disebagian tempat melaksanakan sholat sunnah tarawih dengan jumlah 23 raka’at lansung dilanjutkan dengan witir, dengan pelaksanaan 2 raka’at satu kali salam untuk tarawih dan 2 kali salam untuk witir, dengan pelaksanaan 2 raka’at salam pertama dan 1 raka’at salam kedua. Adapula dengan jumlah 8 raka’at, cara pelaksanaannya sebagian dengan 2 raka’at satu kali salam dengan witir 3 raka’at langsung satu kali salam dan 4 raka’at satu kali salam dengan 3raka’at langsung salam.

            Malam pertama aku melaksankan sholat tarawih dimasjid al-Ikhlas desa Riding Panjang Kecamatan Merawang Bangka. Kebetulan dimasjid tersebut melaksanakan tarwih dengan jumlah 23 raka’at langsung dengan witir. Pada awalnya memang telah tertanam pada diriku untuk sholat tarwaih cukup mengikuti imam hanya sampai delapan raka’at dengan witir dilaksanakan sendiri, jika dimasjid yang melaksanakan tarawih delapan raka’at aku ikuti sampai selesai, tuntas dengan witirnya. Setelah rak’at kedelapan tiba, maka aku bergegas keluar dari masjid dan langsung pulang kerumah. Sesampai dirumah, aku tidak langsung masuk kedalam rumah, melainkan mampir ke konter HP milik abang ipar ku, yang berada didepan rumah mertuaku, kebetulan yang jaga konternya adalah istriku. Aku langsung masuk kedalam konter tersebut, dengan sedikit perbincangan kecil dengan istriku. Tidak terasakan waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Sepulang dari masjid aku berniat melaksanakan witir dirumah, akan tetapi sampai pukul 21.00 WIB, belum terlintas sedikitpun dalam benakku terfikirkan bahwa aku belum melaksanakan sholat witir. Kemudian aku dan istriku masuk kedalam rumah langsung menuju kamar tidur. Sedikit senda gurau menemani hingga kami tertidur. Pukul 03.00 WIB alarm berbunyi, kamipun terbangun. Waktu sahur tiba, tetapi belum juga teringat olehku kalau aku belum melaksanakan witir. Kami langsung makan sahur, hanya istriku yang tidak ikut sahur karena datang bulan (hait).

            Waktu subuh tiba, aku langsung melaksanakan sholat subuh. Setelah usai sholat subuh, baru aku teringat bahwa dari semalaman aku belum melaksanakan witir. Ah … sudahlah, inikan bukan disengaja, lagian inikan sunnah. Kalau bukan karena lupa mana mungkin aku meninggalkannya.
           
            Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB, aku dan istriku harus bersiap-siap untuk pulang ketempat kontrakan kami di Sungailiat, sekaligus harus bekerja sebagaimana aktivitas keseharian. Sesampai dikontrakan, hanya sekita 10 menit kami kami langsung berangkat menuju tempat intriku kerja, yaitu di Islmic Centre. Setelah sampai, aku langsung memutar arah kendaraanku dan bergegas kembali menuju kontrakan kami.

            Akupun sampai, dan langsung masuk kedalam untuk istirahat. Kurang lebih pukul 09.00 pagi, aku berangkat menuju tempat kerjaku di SD Negeri 11 Sungailiat, tepatnya di Lubuk Keli Parit Padang. Aku ke sana untuk menyelesaikan Laporan Bulanan Agustus 2008 untuk tingkat SD/MI dan pengumpulannya paling lambat tanggal 5 dalam setiap bulanya setelah sekian lama aku menulis laporan tersebut, sejenak aku berdiri. Sedikit rasa haus menggerakkan langkah kakiku menuju tempat air minum gelas kemasan, yang kebetulan didalamnya ada sekantong permen KISS. Tidak terbayangkan dalam benakku kalau hari itu adalah hari pertama berpuasa ditahun ini. Aku langsung membuka kantong permen tersebut, tanpa ada keganjilan dan kejanggalan permen tersebut aku masukkan kedalam mulutku. Hisapan demi hisapan terus ku lakukan, tiba-tiba baru teringat olehku bahwa aku sedang berpuasa. Maka seketika itu pula aku langsung mengeluarkan permen tersebut dari mulutku dan aku langsung berkumur-kumur  untuk menghilangkan rasa manis permen tersebut dari mulutku. Setelah itu, kembali aku lanjutkan menyelesaikan laporan tersebut. Akhirnya selesailah sudah laporan tersebut.
           
            Dalam benakku, mungkin hal ini terjadi padaku karena belum terbiasa. Maklum baru hari pertama  berpuasa, seolah-olah rasanya seperti hari-hari biasa. Semoga jadi pelajaran dan renungan!



Tenggelamnya Sekoci Yin Galama


Tenggelamnya Sekoci Yin Galama


Langit merah mulai memenuhi ufuk Barat, kicau burung-pun mulai tak terdengar lagi. Gemuruh ombak kian teratur. Angin bertiup sepoi-sepoi. Seisi alam mulai mengakhiri aktivitasnya.
 Dari kejauhan terlihat bayangan samara-samar sebuah sekoci akan memasuki kuala. Perlahan tetapi pasti ia kian mendekat. Seketika itu pula meriam pertanda datangnya kapal memasuki kuala dibunyikan. Tummmm… dentuman meriam telah dibunyikan. Sekoci-pun mulai menelusuri aliran sungai, berjalan perlahan karena sungainya tidak begitu luas.
 Suasana kian mengelitik telinga, serangga-serangga sungai berbunyi saling bergantian, sahut-menyahut. Bagaikan berada dalam sebuah keramaian, yang memecahkan kesunyian. Sang nahkoda terus memusatkan pandangan ke depan. Tak menghiraukan keramaian serangga-serangga sungai tengah bergembira, karena seharian menahan diri.
 Tiba-tiba dari bilik tirai pondokan sekoci terdengar suara merdu memecah kebisingan suara serangga-serangga sungai yang sedari tadi terus berbunyi. Dialah Yin Galama, putri Kho Ho. Yin Galama ini bukan Yin Galema dalam novel karya Ian Sancin. Dia hanyalah putri seorang pedagang Tiongkok yang membawa barang-barang seperti; keramik, mangkok Cina dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut ia datangkan lansung dari negerinya. Pelayaran sekoci Kho Ho melintasi Laut Natuna diperairan Muntok hingga masuk ke wilayah laut Metibak Peradong.
 Suara merdu dari putri Kho Ho kian memukau. Sang nahkoda jadi semangat memainkan baling-baling setir sekoci, meski gelap malam kian mencekam. Sejenak suara merdu itu terhenti, dan terdengar sebuah sebuah pertanyaan dari Yin (panggilan Yin Galama).
 “Pa, kita di mana sekarang?”
Kho Ho pun menjawab pertanyaan putrinya.
“Kita sekarang ada di aliran Sungai Peradong.”
Kemudian Yin kembali bertanya pada Papanya.
“Sungai Peradong ini masuk wilayah kawasan mana Pa?”
“Sungai ini masuk wilayah kawasan bagian Muntok.”
 Setelah mengerti, Yin pun terdiam. Batinnya bertanya-tanya mengapa Papnya membawa barang-barang tersebut ke Peradong.
 Malam semakin gelap, serangga-serangga sungai satu persatu mulai menghentikan suaranya. Yin pun masuk ke dalam bilik pondokan sekoci. Dalam bilik ia merenung, ada apa gerangan di kampong Peradong, sampai-sampai Papanya membawa barang-barang demikian ke sana.
 Di tengah redupnya suara bising serangga-serangga sungai, nahkoda menyuarakan pada seisi sekoci bahwa sebentar lagi akan tiba di pelabuhan pekal Peradong. Pelabuhan ini tidak sama halnya dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya, karena pelabuhan pekal Peradong hanyalah pelabuhan yang kecil, yang lebih cocok dinamai dengan tambatan perahu. Namun, demikianlah adanya pelabuhan pekal Peradong.
 Sedikit bahagia dihati Yin, walaupun perasaan dihantui dengan rasa penasaran terhadap kampong yang dituju.
 Tiba-tiba, nahkoda berteriak kaget, seisi sekoci menjadi terkejut, ada apa gerangan nahkoda berteriak…?? Ternyata seekor buaya besar lewat di depan muka sekoci. Kini, keterkejutan itu telah sirna. Tapi, tiba-tiba… gradakkkk…. seperti ada sesuatu yang menabrak, sekoci jadi bergoyang ke kriri dan ke kanan. Nahkoda jadi panik, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada sekoci yang dinahkodainya. Ternyata, buntut belakang sekoci mengalami kebocoran. Seisi sekoci jadi berhamburan, rasa ketakutan menghantui hati mereka.
 Air telah masuk ke dalam sekoci setengah mata kaki orang dewasa, sekoci tetap berjalan hingga tiba di tikungan sungai. Sesampai di tikungan sungai, air telah setengah badan sekoci. Seisi sekoci meloncat ke luar.
 Perlahan tapi pasti, sekoci mulai tenggelam. Harapan Kho Ho pun ikut tenggelam, karena barang-barangnya ikut tenggelam bersama sekoci. Mereka pun berenang menuju tepian sungai, termasuk Yin. Sesampai di tepi sungai, mereka memanjat pohon-pohon yang ada. Dengan tubuh kedinginan mereka mendekap di pohon-pohon menanti malam berganti siang dengan harapan yang pupus.
 Kampong Peradong yang dituju belum kesampaian, siang yang dinanti pun masih lama. Sunguh malang nasib Yin Galama, karena sekoci Kho Ho tengelam seiring dengan larutnya malam

Sekoci : kapal kecil
Kuala   : muara (pertemuan antara air laut dengan air sungai)
Pekal   : pangkal

Riding Panjang, 01 Februari 2010
Pukul 20:09 WIB
By: Nayrus El Rayyan

Minggu, 01 Mei 2011

Orang Misterius


Orang Misterius


Aku terheran-heran …
Entah ilmu apa yang dipakai orang misterius itu. Setiap kali, yang jadi korbannya selalu ABG alias anak baru gede, mungkin karena darahnya yang masih segar, atau karena kulitnya yang masih mulus … atau karena keperawanannya …
Uhhh …
Tak tau lah …
Yang pastinya telah banyak yang jadi korban. Bayangkan saja, hal itu telah dilakukan oleh orang misterius sekitar dua tahunan. Berapa banyak ABG-ABG yang harus kehilangan semuanya, perhiasan yang dipunya, pernak-pernik, uang, hingga keperawanannya. Tak bisa aku membayangkannya.
Duh kasiannya …
Aku jadi tambah heran, apa orang ini yang sangat hebat, ataukah aparat penegah hukumnya yang kurang cermat.
Uhhhh …
Lagi-lagi nafasku terhongoskan
Tahun 2010 adalah tahun kegembiraan bagi orangtua yang anaknya jadi korban kebengisan orang misterius itu. Tepatnya bulan Februari, ia telah ditangkap oleh aparat hokum di kediamannya sendiri. Tenyata hipotesisku sedikit ada benarnya. Tapi yang pastinya aku ancung jempol untuk aparat hukum karena telah menangkap biang kerok perusak moral generasi bangsa.
Kumisnya yang tebal dan rambutnya yang hampir botak, sekilas tak ada satupun dari dirinya yang membuat orang tertarik, jangan untuk kena rayuannya, melihatnya saja menakutkan. Benar kata Kahlil Gibran; “bahwa menilai seseorang itu jangan hanya pada apa yang ditampakkannya, tetapi lihatlah apa yang tidak diperlihatkannya.”
Nasi telah jadi bubur …
Mau diapakan, yang telah terjadi tidak akan mungkin dapat ditarik kembali. Itulah yang terjadi, jika kita terlalu mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. Berani berbuat, harus siap menanggung akibat, itulah pepatah mengatakan.
Nasehat orangtua begitulah adanya, tiada orangtua yang menasehati anaknya untuk berbuat jahat. Orangtua tak musti harus disalahkan, baik dan buruk tergantung kita yang menentukannya, lain halnya dengan anak-anak.
Eloklah Gurindam di bawah ini dijadikan renungan dan pelajaran:
Hidup di dunia yang fatamorgana
Membuat orang jadi sengsara
Bagaikan terdiam dalam penjara
Jika tidak penuh dengan usaha

Bumi dipijak dengan telapak kaki
Kita hidup harus berbenah diri
Agar menjadi manusia yang madiri

Santunlah dalam bermasyarakat
Murahlah terhadap kerabat
Agar menjadi orang yang bermartabat

Amal harus selalu ditambah
Jangan lupa selalu berbenah
Supaya jadi orang yang ramah
Teguhkan diri dengan amanah

Kitab Al-Qur’an pegangan manusia
Petunjuk bagi hidup di dunia
Selalu bertaubat menghapus dosa
Akhirat nanti pasti bahagia

Hidup itu haruslah bermurah
Biar rezeki terus bertambah
Dan pasti akan mendapat berkah

Rajinlah sembahyang lima waktu
Itulah kewajiban bagi yang tahu
Mengerjakannya tiada menunggu

Berbuat baik pada kedua orangtua
Mengharap ridha dari Yang Kuasa
Masuk surga tanpa disiksa
Itulah petunjuk hidup bagi manusia

Inilah gurindam yang serat akan maksan
Nasehat bagi umat manusia
Agar menjadi orang yang bertaqwa
Dunia akhirat pasti berbangga

Cukup sekian nasehat ini
Semoga pembaca jadi memahami
Pentingnya hidup dengan mengabdi
Akhirnya menjadi hidup yang hakiki
Insya Allah …

Sebuah pelajaran bagi kita, jangan hanya karena penampilan yang sedikit meyakinkan dan tawaran yang mendesak kebutuhan, kita lansung ditaklukkannya.
Ehemmm …
Daripada mengharap sesuatu yang tak bisa diduga, mending kita Bantu orangtua. Membantu tak musti harus kita bekerja dengan hasil jerih upaya dan jadi pengusaha, memberikan senyuman saja pada mereka juga salah satu bukti kecintaan kita. Apalagi sebagai anak perempuan, pekerjaan untuk mereka cukup di rumah saja, toh yang menghidupi nantinya adalah suaminya.
Prinsip gengsi dan mau cari pemasukan sendiri jangan terlalu dimanja, nanti juga pada saatnya harus melakoninya. Tunggu saja tanggal mainnya.
Aku sedikit gembira, setidaknya dengan ini semua membuat kita jadi waspadaakan dengan kenikmatan yang terus menggoda. Harus memiliki bekal sebagai penjaga, agar kita selalu bahagia.
Ini memang tak jelas bagi orang yang pemalas, namun sebaliknya akan menjadi wacana bagi orang yang bijaksana.
Sebaiknya aku sudahi saja, biar orang tak menjadi buta, dan akhirnya bisa menduga-duga …


Riding Panjang, 09 Februari 2010
Pukul 15:11 WIB, Menjelang Ashar
By: Nayrus El Rayyan